Monday, July 6, 2009

All Ages Party Movie Screening 2009

Sekitar 2 tahun yang lalu,kalo ga salah 22 desember 2007 adalah cikal bakalnya film ini, sepulang kerja hari itu gw langsung ke parkit dejavu karena emang hari itu adalah pestanya semua umur alias All Ages Party. Dengan tiket yang murah (kalo ga salah cuma 5ribu perak) lo bisa masuk dengan tanda pengenal berupa gelang dua warna bertuliskan All Ages Party plus bisa nonton reuniannya Overcast,comeback show-nya Lost Sight, dan band-band lama yang udah lama banget ga mentas. And that was soooo fun !

Sabtu, 27 Juni 2009 All Ages Party kembali lagi dengan bentuk sebuah film dokumenter, pemutaran film All Ages Party 'the day when hardcore punk dies' adalah salah satu even yang gw nantikan seminggu terakhir ini. Acaranya sendiri diadakan di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki, berbarengan dengan pameran yang diadakan guna merayakan ulang tahun IKJ yang ke 40.

Pemutaran film dokumenter yang berdurasi kurang lebih 35 menit (dengan durasi total lebih dari 2 jam pada versi dvdnya nanti) ini dibuka oleh penampilan akustik dari Ten Holes. Filmnya sendiri bercerita tentang awal mula perkembangan scene hardcore/punk khususnya di Jakarta timur, yang menarik buat gw, di awal film diberikan keterangan bahwasanya film ini bukanlah film yang memuat paham atau isme apapun. Dan memang nyatanya film ini berisi dokumentasi dan 'pengakuan' dari para pelaku scene, tentang bagaimana awalnya hardcore punk bisa tumbuh, yang notabene menghasilkan cetak biru bagi perjalanan scene hardcore punk (khususnya di Jakarta), dari jamannya pid pub sampe poster cafe, kemunculan band-band awal seperti Antiseptic dan terus bergulirnya scene, sampai kemudian pada akhirnya menyeruaklah ke permukaan band-band seperti Triple X, Burning Inside, Lost Sight, The Jinxz dan banyak lagi, dan tentunya pembahasan mengenai subscene - subscene di Jakarta timur sendiri seperti di wilayah Wijaya, Cipinang, Medikal dan lain lain.

Well, semoga aja film ini bisa cepet beredar di kalangan 'underground' (sebuah istilah yang agaknya telah memudar dan bernada basi, dikarenakan gempuran media massa yang pada dasarnya, seolah menempatkan konteks "underground" kedalam sebuah level yang berkonotasi negatif) dan rasanya kita patut berterima kasih bagi mereka yang sudah berjerih payah membuat film ini, karena memang sudah saatnya scene di Indonesia memiliki sebuah dokumentasi yang real. So keep up the good work guys!

"BACK IN THE DAYS where we can't got inside, stucked in a hole but we feelin' alright..HATED BY MANY UNDERSTOOD BY FEW..Walking in pride! We're on paradise"

- 'Back In The Days' by Ten Holes.

4 comments:

  1. in many ways i should greatfull for reading this review, it would never be enough

    but first of all

    a ton of thanx dude

    aditofthejinxz

    ReplyDelete
  2. yo !
    personally,the movie and all people who get their shit for this movie is really inspiring me..

    Thanks man,i really appreciate it ;)

    ReplyDelete
  3. anjrit kren bgt neh blog !!!!
    presentasi bahasa lo d review all ages party ga bosenin brur !!!

    keep it real..
    keep it laoud n proud..
    keep the faith !!!

    ReplyDelete
  4. i might say...impressive.
    gue suka bgt gaya bahasa yang lo pake. really it is impressive. keep up the awesome work, dude.

    -j-

    ReplyDelete