Wednesday, May 25, 2011

Jimbul - Quest For Justice : Past And Present.

The Beginning
Quest For Justice bermula saat gue (Jim bul) berkeinginan untuk membuat band baru dengan konsep hardcore youth crew era 88 di akhir tahun 1999 lalu. Saat itu gue masih berumur 18 tahun. Sebelumnya, gue sendiri sempat mempunyai band hardcore bertema oldschool hardcore bernama BNF (cikal bakal First of All) bersama beberapa anak-anak yang tergabung dalam satu tongkrongan hardcore punk dan skinhead di Cipinang, Jakarta Timur. Namun karena perbedaan konsep musik, gue terpaksa mengundurkan diri dari BNF.
Untuk membuat band baru, gue mulai mencari beberapa personil. Akhirnya gue memutuskan untuk mengajak tetangga gue Sigit, gitaris dari band bernama Kid’s United (yang sempat mengganti nama menjadi Enmity) untuk mengisi posisi gitar. Sedangkan untuk bassis dan drummer, gue mencoba mengajak beberapa anak dari tongkrongan di Cipinang Youth seperti Herman, mantan bassist H&R untuk mengisi posisi bass dan Ende, drummer band skinhead Oi bernama Subrooster.
Nama Quest For Justice itu sendiri diambil dari gabungan dua album favorit gue (di tahun itu), yaitu album Quest For Certainty dari Shelter dan Fight For Justice dari Warzone. Sehingga keduanya digabungin menjadi Quest For Justice.
Bersama Sigit, Herman, dan Ende, kami pun mulai mengcover lagu-lagu Side By Side dan Youth of Today, dua dari band 88 hardcore asal New York yang menjadi inspirasi kami. Di tahun 2000, kami mulai membuat demo pertama yang berjudul “Friendship Till The End” dan sempat masuk dalam kompilasi “Young Till We Die” yang dibuat oleh Adit “The Jinxz” di tahun 2000.
Namun setelah dua kali manggung, Ende mengundurkan diri, karena kebetulan ingin fokus sama Subrooster. Untuk menggantikan posisi drum, akhirnya gue merekrut teman pengajian gue bernama Ojie yang kebetulan masih tinggal satu wilayah di kawasan Cipinang Muara. Ojie kebetulan saat itu juga memiliki band beraliran street punk bernama The Paits.
Tidak beberapa lama, Herman pun mengundurkan diri karena kesibukan pekerjaannya. Disinilah kami memutuskan untuk mencari pengganti posisi Herman. Tidak lama berselang, gue, Sigit dan Ojie diperkenalkan dengan Anton, teman satu sekolahannya Dollah, vokalis dari MBA untuk direkrut sebagai personil baru Quest For Justice.
Sebelum kami memutuskan membuat demo, Sigit dan Anton bertukar posisi. Sebelumnya Sigit mengisi posisi gitar dan Anton di posisi bass. Karena nampaknya Anton lebih cocok megang gitar, akhirnya mereka bertukar posisi, sehingga Anton akhirnya memegang gitar dan Sigit memegang bass. Dengan formasi inilah, akhirnya terciptalah demo pertama kami di akhir tahun 2000 berjudul “Jakarta Sewers” yang berisi lima lagu, antara lain Make It Real, I Don’t Need, Free Your Mind, Friendship Till The End, dan Move A Head. Selain itu, bersama formasi baru ini, kami mulai banyak manggung di gigs-gigs lokal.

Dari sekian gigs local yang pernah ada di saat itu, ada satu gigs yang tidak terlupakan bagi kami, yaitu “Spirit Of The Day” di tahun 2001. Acara ini adalah tempat berkumpulnya band-band hardcore dengan konsep youthcrew dan old school yang saat itu lagi “in”.
Selain itu, acara berjudul “Jakarta Brisik” di tahun 2002 juga menjadi acara yang tidak terlupakan bagi kami. Selain banyak support ysng ksmi terima saat kami manggung, di acara itu kami juga dibantu oleh Bayu (First Of All dan Lost Sight) untuk mengisi posisi gitar kedua
Masa-Masa Break Up
Memasuki tahun 2003, keregangan terjadi diantara kami, khususnya antara gue dan Anton. Kami banyak berbeda pendapat, khususnya dalam warna musik. Anton menuntut musik kami menjadi lebih modern, karena kebetulan skill Anton dalam bermain gitar bisa dibilang cukup jempolan. Sehingga dia tertarik dengan konsep hardcore youthcrew yang lebih modern. Namun, gue lebih bertitik berat kepada musik youthcrew era 88 yang gue anggap energik. Selain itu, gue juga menyesuaikan kemampuan ketukan Ojie yang lebih “ganas” bila bermain 88 style. Disinilah berbeda pendapat terjadi. Sehingga akhirnya, Quest For Justice pun “dibekukan” untuk sementara waktu.
Change Within = The New Quest For Justice.
Di tahun 2004, gue dan Ojie memutuskan untuk kembali membangun lagi band kami dengan formasi yang baru. Karena Quest For Justice sudah dibekukan dan tidak mungkin menggunakan Anton lagi untuk mengisi posisi gitar, akhirnya kami sepakat untuk tidak memakai nama Quest For Justice. Kami menggantinya dengan nama Change Within, yang kami ambil dari salah satu lagu dari band fenomenal Bold.
Disini gue dan Ojie kembali merekrut Sigit di posisi gitar, Bonny di posisi Bass, serta Helmi a.k.a Core Kid di posisi gitar kedua. Dengan formasi ini, banyak yang mengansumsikan kalau Change Within itu adalah reinkarnasi dari Quest For Justice. Namun untuk membedakannya, kami menggabungkan konsep musik era 88 dengan youth crew era 90-an. Ibaratnya menggabungkan warna musik Youth Of Today dengan Battery. Dan karena kebetulan, seluruh personilnya Straight Edge, maka kami pun mendeklarasikan band kami sebagaiu band straight edge di saat itu.

Di tahun 2005, Change Within membuat demo pertama mereka berisi 5 lagu dan mulai kembali manggung-manggung lagi di gigs lokal. Sayangnya, Sigit mengundurkan diri karena alasan kesibukan pekerjaan. Sehingga posisi Sigit digantikan oleh Bagus, gitaris Kilas Balik yang juga merupakan adik kandung dari Ojie.
Di tahun 2007, kami mengalami keretakan untuk kesekian kalinya. Berbagai perselisihan pun muncul. Kali ini bukan urusan warna musik, tapi waktu yang sibuk dan kurang displin dari para personil. Sehingga di tahun itu pula secara otomatis Change Within pun vakum.
Quest For Justice Is Back!
Bermula dari acara reuni All Ages Party di tahun 2009, Quest For Justice kembali dihidupkan. Disini kami menggunakan formasi lama kami, yaitu gue, Ojie, Anton, dan Sigit. Moment acara tersebut yang membuat kami ingin ngeband kembali.
Namun sibuknya para personil tidak bisa dibendung. Susahnya menghubungi Anton dan Sigit, membuat gue dan Ojie terpaksa harus jalan terus tanpa Anton dan Sigit. Disinilah kami mengajak Bagus, adiknya Ojie untuk mengisi posisi gitar. Pada awalnya, kami bertiga (Jim Bul, Ojie, Bagus) tidak berencana membuat kembali Quest For Justice. Karena pada saat itu, kami bertiga ingin membuat proyek lain di luar Quest For Justice dengan konsep musik Harcore Punk. Tapi karena beberapa masukan, kami berdiskusi untuk memakai nama Quest For Justice lagi dan merekrut kembali Bonny (yang dulu sempat bermain dengan Change Within juga). Sehingga akhirnya, di tahun 2010 Quest For Justice pun kembali masuk studio lagi dan mencoba mengolah lagu-lagu baru.

Saat ini, kami masih menunggu kapan kami akan beraksi kembali di gigs-gigs lokal untuk memberi tahu kepada scene harcore local, bahwa Quest For Justice is back!
http://www.reverbnation.com/questforjustice

No comments:

Post a Comment