Thursday, June 28, 2012

Duct Tape Surgery

Yo! akhirnya blog ini bisa diapdet lagi. Di postingan paling anyar ini, yang tentunya setelah sekian lama absen, Jimbul ambil bagian. Beberapa minggu lalu dia mengirimi saya sebuah surat elektronik yang berisi sebuah 'interview' jika boleh dikatakan begitu. Hanya saja kali ini Jimbul memberikan sentuhan lain dengan cara 'bercerita' tentang hasil interview dia kepada Duct Tape Surgery. Well, selamat membaca! :)
-dodski/uxb-

Duct Tape Surgery
Nama Duct Tape Surgery boleh terbilang baru di telinga para penggiat scene hardcore punk saat ini. Namun tidak ada yang bisa memungkiri kreatiftas para wajah lawas di dalam band tersebut. Album perdananya yang bertajuk “Facing Problems” (Time Up Records/Stop ‘N’ Go) berhasil menyita perhatian dan membawa kembali kejayaan hardcore punk era 80-an yang agresif, powerful, dan penuh dengan lirik amarah ke tengah-tengah pecinta musik hardcore punk.


Meskipun terbilang baru, Duct Tape Surgery terdiri dari beberapa “muka lama” yang sudah cukup dikenal. Nama-nama seperti Enju (vocal), Roy (bass), Ega (drum), Bonar (gitar), serta Mantul (gitar) sudah tidak perlu diragukan lagi kepiawaiannya dalam menghasilkan karya yang segar untuk telinga-telinga penikmat musik hardcore punk. Bila menoleh ke beberapa tahun silam, nama Ega dan Roy cukup dikenal sebagai personil aktif dari Tanpa Batas. Bahkan Ega juga dikenal sebagai  drummer dari Hellowar dan masih aktif sampai saat ini. Lain halnya dengan Enju dan Bonar yang dahulu pernah tergabung dalam satu band bersama Thinking Straight. Belum lagi sepak terjang Enju yang juga sempat dikenal sebagai vokalis dari Taste of Flesh. Sedangkan Mantul yang berperan sebagai gitaris kedua juga bergabung  bersama Ega di Hellowar sebagai vokalis.

Jauh sebelum nama Duct Tape Surgery ada, Enju, Ega, dan Roy sempat menggunakan nama Fed Up With Lies bersama Adunk, gitaris dari Taste of Flesh terdahulu. Sayangnya karena kesibukan, Adunk pun tidak bisa meluangkan waktunya untuk bermain dan berlatih bersama rekan sejawatnya. Seiring waktu yang berjalan, mereka bertiga memutuskan untuk merekrut Mantul dan Bonar dan mencoba mencari nama baru yang pas untuk formasi ini.

Jadi ya karena kita ganti personil, ya kita ganti juga namanya. Sempat lama tuh nggak ada nama. Pas recording untuk album juga belum ada namanya. Bahkan saat mulai layout cover pun juga kita masih belum punya nama,” tutur Ega saat ditemui di kediamannya.
Menurut Ega, nama Duct Tape Surgery lahir dari idenya Roy yang terinspirasi dari sebutan dari ‘lakban’ yang digunakan untuk sepatu para skater yang biasa disebut dengan ‘duct tape’. Sehingga akhirnya tercetuslah nama Duct Tape Surgery yang selaras dengan gambar cover album perdana mereka yang menjelaskan secara visual apa arti dari nama band ini. 

Salah satu hal lain yang membuat penasaran dari Duct Tape Surgery adalah bergabungnya Bonar yang dahulu sempat dikenal sebagai gitaris multitalenta di Thinking Straight. Semua orang mengenal karakter permainan gitar dan wawasannya terhadap sound yang terlihat sangat kental dengan unsur rock dan metal di Thinking Straight. Namun kali ini Bonar memainkan karakter sound dan permainan yang berbeda dan belum pernah dicoba.

 “Jadi gue pengen tuh gitar dan soundnya itu ada kayak rock 70-annya. Sedangkan kalo cuma satu gitar Mantul doang nggak dapet. Nah kebetulan Bonar sudah nggak ngeband lagi sama bandnya, ya gue ajakin. Ya Bonar-nya mau ya jadi,” kata Ega saat ditanya perihal alasan merekrut Bonar. Hal senada juga diungkapkan Bonar saat ditemui di tempat terpisah. Menurut Bonar, awalnya ia diajak untuk mengisi posisi gitar di band tersebut setelah beberapa bulan ia keluar dari Thinking Straight. Walaupun sebenarnya ia sempat berpikir untuk berhenti bermain musik dan serius berkarir yang sebagaimana layaknya orang umum kerjakan. 

“Awalnya setelah keluar dari Thinking Straight, gue udah pengen nggak main musik lagi. Pengen kayak orang lain aja kayak umumnya. Tapi pas ditawarin Ega untuk ngeband lagi, ya kenapa nggak. ” jelas Bonar. 


“Tadinya gue sempat bingung loh dengan musiknya DTS. Ya kebanting banget kayak yang gue mainin di TS. Biasanya main kunci-kunci balok yang agak metal, terus tiba-tiba harus maenin hardcore punk gini. Malah tadinya gue sempat nyerah. Wah susah neh, gue nggak sanggup. Tapi kebetulan anak-anak yang lain bilang dicoba aja dulu. Ya akhirnya bisa. Si Ega ngasih CD seabrek untuk didengerin kayak The Faith, Cut The Shit, Government Warning dan lain-lain. Ya gue coba pelajari,” tambah Bonar sambil tersenyum.

Dalam kesempatan tersebut, Bonar mengungkapkan bahwa di Duct Tape Surgery-lah ia menemukan dirinya yang sebenarnya. Ternyata karakter sound vintage ala rock 70-an yang disukanya sejak dahulu kala bisa melebur menjadi satu dengan agresifnya musk hardcore punk di Duct Tape Surgery. “Ini nih yang gue cari. Memang Ega sama anak-anak tahu gue doyannya musik Led Zeppelin, Black Sabbath dan lain-lain. Nah, di DTS ini gue kayaknya merasa menemukan apa yang gue cari. Disini gue juga dapat pemikiran berbeda tentang hardcore punk, bahkan tentang Straight Edge,” jelas Bonar yang sekaligus menjawab rumor yang beredar mengenai dirinya yang dianggap sudah “break the edge” sepeninggalnya dari band terdahulunya.

“Ya kebetulan gue sama Roy disini SXE (Straight Edge-red). Nah gue banyak tuh belajar mengenai SXE sama Roy. Ya gue nemuin pemikiran yang berbeda aja,” kata Bonar.
Dengan bergabungnya Bonar sebagai “otak” dalam meramu karakter sound di Duct Tape Surgery, membuat warna yang berbeda untuk band tersebut. Karakter gitar Gibson Les Paul milik Bonar dan karakter Fender Telecaster milik Mantul berpadu menjadi karakter vintage ala hardcore punk era 80-an. Tambahan efek untuk bass yang digunakan Roy, gebukan agresif suara dari permainan drum Ega, serta teriakan parau Enju membuat karakter musik mereka menjadi buah bibir di kalangan scene hardcore punk setempat. Mereka tidak peduli dengan anggapan karakter sound yang dianggap “sudah tidak jamannya lagi”. Inilah karakter yang dianggap sudah mewakili jiwa mereka.

Sedangkan untuk urusan lirik, Duct Tape Surgery banyak mengungkapkan tema personal issues dan bercerita dari apa yang mereka lihat dan rasakan seperti “Fate”, “Strained”, “Disobey”, “Trapped”, “Looking Back” dan beberapa lagu lainnya dengan tema serupa. Berdasarkan pengakuan Enju, semua lirik di album “Facing Problems” semuanya ditulis oleh Roy, sang bassist. Namun itu tidak berarti bahwa Enju tidak memberi rasa sentuhan emosional dari setiap lirik yang dinyanyikan. Semua amarah terdengar dari setiap lagu. Namun khusus lagu “I’m Lazy”, Enju terpaksa menanggalkan microphone-nya saat rekaman dan digantikan oleh Mantul yang sebenarnya juga memiliki latar belakang seorang vokalis. 


Dengan hadirnya Duct Tape Surgery beserta materi perdananya diharapkan akan membawa angin segar dan menambah daftar panjang sebagai band yang perlu diperhitungkan di kalangan penikmat musik hardcore punk di tanah air. Mereka tidak terlalu memikirkan ambisi yang berlebih untuk membawa sejauh mana band ini akan bermuara. Hadirnya album perdana mereka sudah cukup membuktikkan bahwa mereka masih punya “nafas” untuk scene hardcore punk tanah air. 

“Future Plan pasti ada, tapi nggak tahu apaan. Yang pasti just rockin together aja. Oke, salute and cheers, semoga senang yak,” ujar Ega. 

-jimbul/uxb-

No comments:

Post a Comment