Monday, December 24, 2012

Interview w/ Dinda Advena

Tadinya postingan ini mau saya posting tepat dimana orang-orang parno sama yang namanya kiamat. Cuma karena menurut saya apapun yang diposting dan berkaitan kiamat suku maya di Jumat kemarin itu mainstream (ciyeeeeee) maka ya saya batalkan gitu aja deh. Nikmati interview saya dengan (salah satu) stage potograper paporit saya ini, interview dilakukan beberapa bulan yang lalu via surat elektronik dan dibalas oleh doi beberapa saat setelah resign dari pekerjaannya.
-Mr Mosh/UxB-


Menjadi seorang wanita yang memiliki hobi memoto dan pernah aktif sebagai stage photographer, how do you feel?
Ralat sedikit: bukan pernah aktif, tapi masih aktif... hanya porsinya saja yang lebih sedikit hehe. Saya bisa dibilang merasa beruntung tercebur di lingkungan yang saat ini saya jalani, dalam hal ini scene hardcore punk. Senang ngeliat semangat teman-teman yg masih membara sampai saat ini, senang liat satu sama lain berbagi keringat di dalam mosh pit, senang liat performa setiap band yang menggebu-gebu. Hal-hal itulah yang masih membuat saya terus mencintai hobi ini, setiap hasil jepretan foto ya memang itu yg benar-benar terjadi. Dari situ saya merasakan semangatnya. Kalau dari sisi sebagai fotografer, secara pribadi saya ingin terus berkontribusi lewat foto dan juga dengan cara lainnya, turut “menyumbang” sesuatu untuk komunitas ini.


So how its all started?
Sekitar tahun 2005-2006 awal, saya mulai sering diajak teman untuk datang ke acara (gigs) di Tangerang/Jakarta. Pada awalnya saya cuma bawa kamera saku biasa, sampai akhirnya keterusan kemana-mana bawa kamera DSLR. Kebetulan hobi saya ini agaknya menurun dari bapak saya, yang juga hobi memotret, jadi saya sekalian memaksimalkan fasilitas yang ada (kamera, lensa, flash, dsb) yang ada di rumah, sampai akhirnya jadi hobi beneran. Selain karena hobi, saya pun merasa dokumentasi gambar itu perlu, apa lagi di dalam komunitas minor seperti hardcore punk, kalau tidak ada yang mencatat dan merekam peristiwa dari yang penting sampai yang ngga penting, lama-lama bisa musnah juga. Lagipula kan seru kalau ada foto-foto acara, jadi ada yang bisa dikenang.

Momen favorit dan terbaik sepanjang ‘karir’ sebagai stage photographer?
Momen favorit dan terbaik? Hmm.. agak sulit dipilih yang mana ya. Beberapa kali ikut pameran kecil-kecilan bareng temen-temen dan beberapa kali pula ikut kontribusi dalam majalah lokal. Setiap momen itu penting buat saya. Selain itu sempat diminta jadi kontributor tetap untuk rubrik Monday Photo Blog di web Maximum Rock n Roll, dan sempet nongol di sampul majalahnya issue #352. Senang karena seakan-akan ingin mengingatkan komunitas di luar sana bahwa: hey skena lokal disini masih ada, besar dan terus berkembang lho. 

Selain menjadi fotografer diatas panggung, we all know kalo kamu juga seorang yang suka travelling dan mendokumentasikannya. Pasti ada dong satu tempat yang sangat membuat kamu terkesan, dimana?
Ada sensasi mendebarkan setiap kali saya ada di tempat yang asing, segala sesuatunya menarik, itu lah kenapa saya suka sekali traveling. Saya suka berada di tengah bahasa dan kultur yang berbeda, rasanya seperti terperangkap di planet X di galaksi yang jaraknya jauuh ratusan tahun cahaya hehe. Dunia di bawah air dengan jutaan variasi ikan dan terumbu karang warna warni juga selalu berhasil membuat saya terperangah, biar bagaimana pun, Raja Ampat akan selalu menjadi destinasi terakhir saya. Ada kejadian yang paling saya inget sewaktu saya traveling sendirian ke Bangkok, dipaksa ke hotel sama orang kulit hitam berbadan besar yang katanya dari Nigeria, di Khaosan Road backpacker area. Waktu itu saya lawan dengan (sok) tenang, walau sebenernya takut dan deg-degan setengah mati! Kebayang kan sendirian di negara orang dan kurang familiar daerah sekitar... Saking paniknya di kepala saya muncul beberapa skenario terburuk, entah bakalan dicabuli atau malah berakhir dikuliti dan dimutilasi macam film slasher. Hmm.. Ini mah bukan cerita yang bikin terkesan yaa, tapi buat saya paling membekas. Ah sudahlah daripada makin panjang, toh akhirnya saya selamat tanpa kekurangan suatu apa pun :D

Ada cerita-cerita lucu/konyol selama kamu menjadi stage photographer?
Konyol dan lucu sih ngga ada kayaknya... Paling kamera saya sering ketendang, kepentok bass, kecipratan keringat, dan kadang kalau di dalam studio gig, lensa sampai berembun ngga kelihatan apa-apa saking pengapnya. Kejadian yang lumayan sering terjadi sih paling sewaktu motret, ujung-ujungnya kamera saya titip ke teman atau taruh di belakang drum set, terus ngga jadi motret karena gemes pengen pogo hehe. Oh tiba-tiba saya inget. Waktu studio gig di Semarang, saya lagi megang kamera dan bersiap-siap untuk motret tiba-tiba saya diangkat sama teman saya, maksudnya sih disuruh crowd surfing, tapi saya sambil megang kamera jadinya malah panik sendiri. Bukan takut karena diangkat dan diarak sampai ke depan, tapi takut kenapa-kenapa sama kamera plus flash eksternalnya, akhirnya malah jadi surfing kikuk dan culun sambil ngomong “e.eee..eee..ehh...” hehe ngga keren sama sekali :p

Pasti ada dong hasil foto kamu sendiri  yang jadi favorit kamu banget , dan kenapa bisa dijadiin favorit?
Wah jujur nih, bingung yang mana foto favorit. Beberapa yang saya suka biasanya karena ada nilai historis dan sentimentilnya disitu. Mungkin karena saya sebenernya anaknya memang sentimentil (aih matee). Banyak sih yang jadi favorit, tapi saya putuskan foto favorit saat ini:


 Waktu itu saya lagi duduk santai di suatu tempat, saya lihat segerombolan burung lagi makan roti dengan rakus sambil rebutan satu sama lain. Lucu liatnya.. Ada yang dominan makan dengan tamaknya sambil berusaha ngusir burung lain yang mendekat, ada yang ngalah dan nunggu sampai ada celah curi-curi kesempatan untuk menyusup ikut makan walau secuil hehe. Saya mendekat sampai jarak sedekat itu pun mereka masih sibuk sendiri. Lalu kemudian saya foto itu, karena saya juga punya kebiasaan motret kaki setiap ada sesuatu yang menarik di bawah sana. Karena kebiasaan ini, saya punya rencana untuk bikin zine tentang backpacking yang juga memuat kompilasi foto kaki yang selama ini sudah lumayan banyak. Kebetulan juga ada teman yang juga punya ide serupa, dan sepakat untuk bikin zine bareng. Tapi lagi-lagi belum sempat terlaksana. Semoga suatu hari nanti bisa terwujud, bukan sekedar wacana belaka :D

Sekian lama kamu tidak terlihat begitu aktif memoto di panggung, so what’s your recent activity?

Ada kalanya saya jenuh untuk memotret, juga jenuh ke acara dan memilih untuk mengurung diri di kamar. Ada kalanya juga saya datang ke acara hanya untuk menikmati acaranya sekedar ngobrol sama teman-teman atau ikutan pogo, tanpa harus terlibat “urusan” memotret. Saya ingin terus menjaga momen itu. Paska kelulusan kuliah, saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk traveling, mumpung ngga ada lagi yang menghalangi mimpi saya untuk jalan-jalan. Jadi selain itu saya sembari kerja sampingan memotret untuk majalah, dokumentasi acara besar, atau pun secara khusus motret band tertentu. Selain itu sempat ngekos di Bandung selama hampir setahun, dan saya terus menabung untuk keperluan sehari-hari juga tentunya untuk jalan-jalan lagi. Lalu belakangan ini baru saja melepas masa menjadi buruh dari suatu kantor industri clothing di Jakarta (hore!) dan sedang menikmati hari-hari santai walau masih dihantui ribuan foto menumpuk yang bersungut minta diedit.

Semacem pertanyaan ‘wajib’ di blog ini, about hc/punk, bagaimana ceritanya kamu bisa kenal, jatuh cinta, dan kemudian terlibat langsung di skena lokal? Tell us the whole story.
Asli BARU nih, kenapa di tiap interview nongol terus pertanyaan ini ya :P Bingung mulainya dari mana, tapi saya persingkat saja. Awalnya kalau ngga salah sektiar tahun 2004-2005 saya sering ke acara metal di Jakarta karena banyak teman disana, lalu mulai kenal komunitas hardcore punk karena dulu diajak untuk bikin wadah sekaligus acara di Tangerang, ada touring band dari luar lalu kami sama-sama bikin acara kecil-kecilan sekaligus ngumpulin band-band Tangerang sampai akhirnya kenal satu sama lain. Mulai jadi seksi dokumentasi acara di Jakarta, baik itu acara band seperti Hardfest maupun kumpul-kumpul seru macam Food Not Bombs atau A Really Really Free Market. Mulai ikutan pameran foto bareng temen-temen lain, mulai ikutan ngobrol-ngobrol sambil diskusi, mulai ikutan nongkrong sampai ke komunitas di luar kota. Mulai mengerti sisi lain dari komunitas ini, bukan hanya sekedar soal band atau ngumpul. Dari situlah saya merasa punya koneksi bahwa kita berada di jalan yang sama. Dari situ merasa jatuh cinta dan timbul rasa nyaman. Rasa nyaman yang kadang saya ngga bisa mendapatkan itu bahkan di rumah sendiri, tapi bisa saya dapat di dalam komunitas. Rasa nyaman itulah yang bikin saya untuk terus menceburkan diri dan tenggelam ke dalam komunitas ini sampai sekarang. Ehem, maaf jadi gombal.

Pertanyaan umum, tapi ini kali pertama saya meng-interview dan menanyakan ini ke seorang wanita pelaku scene dalam konten interview, apa ben lokal favorit kamu?
Banyak banget! Saya selalu rindu gila-gilaan bareng Grave Dancers waktu masih full pakai properti dulu, tapi kayaknya saya bakalan mati penasaran karena ngga kesampaian nonton Hark! It’s A Crawling Tar Tar dan Southern Beach Terrror, udah keburu entah kemana mereka.

Apa yang ada di pikiran kamu jika mendengar kata “Seksisme” ?
Buat saya, seksisme tidak hanya membicarakan tentang kesetaraan atau diskriminasi perempuan atau laki-laki saja, tetapi pola pikir yang membebaskan diri dari ketentuan pakem gender di masyarakat. Kadang saya miris melihat iklan TV dengan tagline “Laki itu harus begini begitu...” atau “Cantik itu bebas bulu.” Dangkal sekali.. Perempuan seharusnya tidak dilihat sebagai objek atau dari seberapa mulus badan seperti kloning model bak putri raja di billboard atau iklan majalah dan televisi. Sama seperti halnya laki-laki tidak seharusnya dilihat hanya dari seberapa besar otot dan ketangguhannya. Membicarakan seksisme tidak hanya dilihat dari sudut pandang perempuan saja, tidak hanya sekedar jargon melawan patriarki, tetapi juga membebaskan laki-laki dari kungkungan kejantanannya. Tidak ada yang aneh dengan lelaki yang gemulai, atau pun perempuan yang perkasa. Laki-laki atau perempuan sama saja, itu hanya nama jenis kelamin.

Kalimat terakhir sebagai penutup interview ini?
Penutup belum lengkap tanpa ucapan terima kasih atau saran singkat macam skripsi bab akhir. Jadi terima kasih ya untuk kesempatan ini.. Ditunggu lagi rilisan UxB versi fisik yang komplit, biar bisa dibaca sambil diraba sewaktu-waktu sesuka hati. Oh ya promosi dikit, kalau ada waktu jangan ragu dan jangan malu untuk mampir ke www.dindaadvena.blogspot.com ya :)

No comments:

Post a Comment