Friday, January 18, 2013

Martyr - Our Eyes Are Closed

Satu-satunya kata yang bisa mengkombinasikan antara Medan dan Straight Edge adalah Martyr, its been 3 years since i saw them for the first time on Hardfest 2009 in Jakarta. Membawa nafas As We Stand di kala itu, mereka mencuri perhatian banyak orang disini (Jakarta), mengawali jaringan pertemanan dikala Myspace masih berjaya, dan akhirnya mereka berhasil memenuhi itu semua di tahun 2009. Tiga tahun berlalu, scene Medan maju pesat, banyak ben bermunculan, tak bisa dihindari bahwasanya mereka adalah pendobrak tembok tua-muda di skena sana. Menutup tahun 2012 dengan sebuah rilisan berformat kaset, which is sedang (kembali) back on track, Martyr memberi kado akhir tahun dengan indah berupa album berjudul Our Eyes Are Closed, dirilis oleh Commitment Asia Record yang berdomisili di Bandung, Jawa Barat.

Kaset telah berubah menjadi benda yang bisa dikategorikan sebagai benda collectable, mengingat alat pemutar dan sebagainya (perlahan) mulai musnah ditelan era digital yang semakin tak terbantahkan. Menyadari hal ini, Itoki sang bassist membuka sebuah link download buat mereka yang tak bisa menikmati rilisan album mereka (yang berbentuk kaset), termasuk saya. 

Kencan saya dengan rilisan ini dibuka oleh "Backstab", seperti yang sudah saya tebak, Martyr memberikan sesuatu yang baru kali ini, memberikan musik yang lebih agresif, tak bertele-tele, dan sound yang kasar. Tak berbeda jauh dari split demo mereka bersama Titik Balik yang (juga) sempat diunggah di Reverbnation, pengaruh Carry On sangat jelas disini, kadang nyawa Ten Yard Fight, dan turunan nada-nada Go It Alone mendasari hampir di rata-rata semua lagu di album ini. Saya tak bilang,"materinya GIA banget" ato "Carry On banget", tidak, jelas Martyr adalah Martyr mereka punya karakter sendiri terlepas dari apa yang mempengaruhi mereka ketika mengerjakan album ini. Saya sendiri menyukai karakter vokal Yagi yang tak terdengar maksa dan tetap berciri khas, sound bass pun terdengar gurih kali ini dan tetap menghadirkan rentetan chord miring meskipun tak terlalu dominan. 

As We Stand Tour 2013, its gonna be their last tour ever.

Album ini juga menyertai 3 lagu yang pernah ada di split demo, Persona, Let It Go, dan Mengapa Kau Disini. Penyampaian lirik yang semakin matang, lihat bagaimana mereka dengan cueknya bermain kata di lagu Hiperialistik yang kental dengan aroma GIA namun dipertemukan dengan lirik menggunakan Bahasa yang jauh dari kata standar dan cenderung manis, membuat saya kepincut dengan track ini. Well, ini rekomendasi saya di weekend yang dipenuhi dengan berita banjir di ibukota, Martyr is Medan Straight Edge, and everybody know it.
(dodski/uxb)


No comments:

Post a Comment