Tuesday, May 20, 2014

Dead Pits - Kita Yang Terbaik

Hola! almost 2 weeks since the last post. Beberapa minggu lalu saya pernah memposting sebuah video teaser album terbaru Dead Pits yang (saat itu akan) baru rilis, selang berapa hari setelah postingan itu, ternyata CD mereka sudah tersedia di beberapa distro lokal termasuk di Trueside Jakarta. Butuh waktu yang lama untuk Dead Pits sampai akhirnya bisa merilis album ketiga ini. Sekedar info, album pertama mereka yang berjudul Titik Balik dirilis oleh Pinball Records 14 tahun yang lalu, atau tepatnya pada tahun 2000, dan album kedua mereka The Way We Are rilis di tahun 2006.

Berbeda dengan album-album sebelumnya, tentunya kali ini Dead Pits memberikan banyak hal baru (setidaknya buat saya pribadi). Dimulai dengan intro yang terasa sangat familiar di telinga saya, seolah menghantar saya untuk mendalami track-track selanjutnya. Seperti yang saya katakan di kalimat sebelum ini, track kedua yang berjudul The Spirit adalah sebuah persambungan tangan dari hantaran semangat yang ada di intro, tepat di track sebelumya. Tak banyak yang berbeda dari karakter vokal Reza a.k.a Gampang, masih terasa sangat khas dan semakin istimewa, simak saja track Dedikasi Sampai Mati, simak repetan vokal Gampang yang menempel erat di beberapa part cepat di lagu ini, if you know what i mean :)


Itu Asapmu adalah satu lagu yang pernah saya dengar live-nya ketika mereka main di Jakcloth awal tahun lalu, dan ketika saya mendengarkannya lagi di album ini, terbayar lunas sudah semua rasa penasaran saya. Buat saya ini adalah track yang paling 'nyentil'. Asap rokok bukanlah persoalan positif atau tidak positif, straight edge atau bukan straight edge, asap rokok adalah common sense. Saya yakin kamu semua tau bagaimana bahaya asap rokok baik untuk mereka perokok aktif ataupun mereka yang tidak mengkonsumsi rokok alias perokok pasif. Dan Dead Pits menyuarakan itu semua lewat lagu ini, well done boys!

Track-track selanjutnya pun tak kalah berbobot dengan track-track sebelumnya. Simak Kita Yang Terbaik, yang juga didaulat sebagai judul album mereka, memuat lirik dan pesan yang buat saya sangat Dead Pits sekali. Satu hal yang cukup menarik buat saya ada di lagu XXX, diawali oleh potongan interview Ian Mckaye di film Edge Documentary. Menarik karena meskipun Dead Pits bukanlah band straight edge, dan Gampang adalah satu-satunya personil yang menganut straight edge, mereka tidak membatasi diri dalam penulisan lagu sekalipun.

Keep Positive and Carry On adalah satu track yang juga bisa dibilang Dead Pits "banget" dibalut dengan musik hardcore yang catchy di kuping saya dan menjadikannya track favorit saya di album ini. Saya suka cara mereka mengemas part sing-along dengan konten yang sealur dengan tema lagunya. 15 Detik Untuk Meditasi juga mencuri perhatian saya, pilihan yang tepat adalah mereka meletakkan suara "ajakan meditasi" (atau apalah itu, i dont know how to call it) yang biasanya terdapat di tempat-tempat ibadah agama Buddha, disusul dengan lirik yang singkat dan padat, satu hal yang baru juga buat saya, ada lagu hatkor dengan lirik yang mengajak untuk meditasi or at least menenangkan pikiran kali yaa :D

The End of Beginning seperti menyempurnakan album ini, menutup sederetan track dari awal album yang sarat dengan pesan positif. Seperti yang saya bilang di paragraf awal, ini adalah album yang berbeda dari mereka, mengingat banyaknya sentuhan melodi gitar yang sejujurnya bisa dibilang jarang kamu dapati di album-album mereka sebelumnya. Secara musik pun tak jauh berubah, hanya saja Dead Pits seperti menemui pendewasaannya (jika boleh dibilang begitu).

Ini rekomendasi dari saya buat kamu yang haus akan rilisan-rilisan lokal terbaru, termasuk Dead Pits, band veteran yang masih bertahan dan eksis sampe sekarang. They're still around from 1996 till now with no bullshit.

No comments:

Post a Comment