Wednesday, May 7, 2014

Interview w/ Alfian Putra of Lemari Kota Webzine

Lemari Kota Webzine adalah salah satu webzine yang aktif dalam memberitakan skena lokal, dan khususnya kota Depok, tempat dimana mereka berasal. Kehadiran mereka turut memberi warna kepada skena ini, dan menghidupkan kembali apa yang telah disepakati bahwasanya scene underground bukanlah apa-apa jikalau tidak ada media-media "bawah tanah " yang ikut berpartisipasi dan tentunya juga memotivasi blogzine saya untuk konstan dalam memposting. So, di postingan kali ini, simak interview saya dengan Alfian Putra, si empunya Lemari Kota Webzine, check it out!



Jadi gimana awalnya sampe kamu memutuskan untuk menjalankan sebuah webzine yang bernama Lemari Kota?

Jadi begini. Waktu itu, di bulan-bulan terakhir SMU (sekitar 2010), gua sempat bikin zine hc/punk namanya Bungkam Suara yang jalan sampai edisi 4. Dan selang setahun kemudian, ketika gua melacurkan diri untuk bekerja serasa kalau udah gak punya energi yang cukup untuk menjalankan sebuah zine dengan format cetak. Kerja di salah satu Toko Buku menyita waktu banget.

Selepas gua cabut dari kerjaan dan dapet kesempatan untuk kuliah, seketika kepikiran untuk bikin media khusus hc/punk tapi bedanya lingkupnya lebih kecil lagi yakni cuma ngbahas kota sendiri -Depok-. Jujur, kehadiran UnitedXBlood salah satu pemicunya (Dan, gua gak dibayar sepeserpun untuk statement ini). Makanya tuh, di postingan pertama LK, isinya kebanyakan band-band Depok yang gua re-write dari Bungkam Suara dulu. Tapi seiring berjalannya waktu, serasa kurang menantang dan gua putuskan untuk melahap skena yang lebih luas lagi.

Gua  memilih zine dengan format web/blog karna saat itu aktivitas perkuliahan lebih banyak mengharuskan di depan laptop dan koneksi internet. Jadi, kayanya kalau dua hal itu gua pake buat keperluaan kuliah, hunting band, dan aktingnya Puma Swede doang, jatohnya kurang greget gitu. Makanya, saat itu gua proklamirkan kalau edisi ke 5 dari Bungkam Suara gak akan pernah ada. Jadilah LK itu.

Mungkin pertanyaan ini sudah beberapa kali kamu dengar, tapi saya gak peduli. Oke, kenapa dinamai Lemari Kota? Terasa lebih ngepop buat saya, jauh dari kesan hatkor/pang yang mendominasi konten di blogzinemu itu sendiri.

Seperti yang gua sebutkan di atas. Awalnya LK cuma akan fokus pada skena Depok aja. Makanya ketika itu gua mengkhayalkan sebuah lemari yang isinya beraneka stuff dari dalam skena hc/punk di Depok. Dan sebenernya juga kata KOTA itu adalah singkatan yang super maksa dari KOmunitas kiTA. Yah, Lemari Komunitas Kita lah. Aneh banget yah ? Emang.

Beruntung kalau ada yang bilang nama LK terdengar ngpop. Karna tak sedikit dari teman-teman yang awalnya menyangka itu adalah bisnis furniture.

Bedanya dengan Another Space Zine?

Another Space. Hahahaha. Jadi gini, tahun 2012 kemarin, mood untuk menulis panjang gua mendadak hadir lagi. Karna kalau menulis panjang di Blog itu kemungkinan orang akan males baca. Dan juga kerinduaan gua berjibaku dengan software layout, tukang fotokopi, dan ajakan trade zine mendadak mencuat lagi. Sialnya di proyek AS ini gua ketelen ludah sendiri. Yang awalnya mau sosoan semi-profesional dengan terbit dua-tiga bulan sekali dan hasilnya jauh dari ekspektasi. 

Mimpi gua di AS bisa dibilang beda dari dua zine gua sebelumnya. Di AS itu gua pengen rekontruksi ide-idenya majalah pop. Gua pengen pondasinya sama tapi muatan dan sistem kerjanya beda: tidak profit oriented. Di situ pula, gua tidak cuma melahap skena hc/punk aja, karna kebetulan gua tipikal orang yang dengerin jenis musik apa aja. Jadi, gua coba ngbantai semuanya. Yang kemudian jadi kelemahan gua juga. Gua lupa potensi gua tidak memadai untuk mengcover semuanya. Hasilnya ? AS mandek di edisi 3. Gua memainkan apa yang gua rasa mampu aja, sekarang.

So, apa yang baru dari Lemari Kota? Saya melihat sekarang kamu tidak sendirian menjalaninya, banyak kontributor yang berpartisipasi, which is good thing dong yah. Ada cerita dibalik itu?

Ketika gua bikin AS, ada temen yang menyayangkan kenapa gua malah bikin zine baru. Kenapa gak coba maksimalkan yang ada. Di situ gua juga serasa di cubit mesra. Dan dari situ juga gua mulai fokus, “Oke, gua maksimalin yang ada! Gua mau bikin LK segede Detik Online!” hahahaha.

Gua mulai coba fokus pada LK. Gua-pun terinspirasi sama beberapa webzine luar semisalnya Dyingscene contohnya. Dan gua teringat lagi dengan zine legend Maximum Rock N Roll, mereka keren punya penulis banyak dan bisa eksis sampe sekarang. Dari situ gua mulai menawarkan ke beberapa orang secara tidak langsung untuk membantu gua di LK. Syukurnya sekarang ada kurang-lebih tujuh penulis yang terdiri dari Fauzan, Reza, Ivanka, Barjak, Agung, Haris, dan gua sendiri.

Dan yang terbaru dari LK adalah gua mulai mikirin bassis ekonomi alternatif untuk LK. Karna gua sadar, untuk kebutuhan review atau gigs report gak selamanya kita bisa mengandalkan duit dari kantong sendiri di tengah harga kebutuhan hidup yang tinggi, apalagi mengharapkan ada band atau organizer gigs yang bisa terus-terusan ngasih gratisan untuk apa yang telah mereka lakukan. Dari situ gua mulai bikin merch LK yang keuntungannya akan gua pakai untuk keperluan redaksi seperti beli tiket gigs, beli rilisan, dan lain-lain. Meski begitu bukan berarti kita yang di LK, gua tuntut untuk kerja full time. Yah, masih longgarlah, selayaknya zine pada umumnya aja yang woles jaheee. Oh iya, ini sekalian buat jaga-jaga aja yaa kenapa sekarang LK bikin merch. Soalnya gua males aja kalau nanti ada yang bilang nyari untunglah, apalah. Yah, daripada LK minta sponsor sama coca-cola atau gak Esia ? Nanti lu pada komen LK produk kapitalis, mainstream lagi. (Peace man!)
 
Beberapa waktu lalu, saya sempat dapat surat elektronik dari seseorang yang bercerita tentang ketertarikan dia akan zine dan menanyakan perihal apa saja yang harus disiapkan untuk membuat sebuah zine. Satu pengalaman yang baru dan menarik buat saya tentunya, jika pertanyaan itu masuk di kotak surat elektronikmu, kira-kira apa jawabanmu?

Gua akan jawab: kalau lu merasa yakin sama apa yang akan lu lakuin, yaudah lu lakuin aja. Soalnya gini, gua pernah mendapatkan hal serupa. Ketika itu temen gua yang juga mau bikin zine. Terus dia sering nanya-nanya ke orang-orang, sampe ada seseorang yang bilang ke dia “Emangnya lo siap ? Mending lo nanya aja sama si anu tuh, si anu dulunya bikin zine juga.” hasilnya temen gua gak pernah bikin zine sampe sekarang karna takut sama konsekuensi-konsekuensi samar yang temennya bilang.

Begitulah kalau budaya hirarkis masih nyangkut di otak. Apa-apa harus izin ke orang yang kita anggap berpengaruh/sesepuh. Bagi gua selagi lu yakin dan lu akan bertanggung jawab dengan apa yang lu lakukan, kenapa gak langsung hajar aja? Masalah nanti ada yang protes itu masalah biasa dan pastinya bisa jadi pembelajaran buat kedepannya. Gak semua yang kita lakukan itu perlu izin. Bagi gua izin itu berlaku cuma kalau mau keluar rumah, biar orang rumah gak panik kalau kita kemana-mana.
 
Selain ngeblog, kamu juga aktif sebagai anak band. Bersama CBA, apa yang sedang kamu lakukan sekarang?

Latihan vokal sama Indra Aziz. Hehehe… Gak deh. Tapi gua sering nonton doi di youtube dan diem-diem mempraktekannya di rumah, serasa bakal jadi vokalis Bonjovi aja. Hehehehe…  CBA lagi berusaha bikin materi baru. Rencananya mau rekaman tahun kemarin, yah tapi sampe sekarang gitu deh. Rencana mah cuma rencana, besok begimana kek.

Koreksi saya jika salah, CBA adalah Comeback Attack? Kenapa sekarang disingkat jadi CBA?

Disingkat biar kaya MDC, gak deh. Niatnya mau disingkat ala Primal Scream (CMBCKTTCK), eh gak juga deh. Sengaja, soalnya biar keliatan segar. Suka jijik aja nyebut nama band sendiri, “kambek ketek”.  Hehehe… Intinya biar segar aja, udah gitu.

Kami sih berharapnya nama baru ini bisa membawa keberuntungan. Yah, minimal bisa jadi openingnya Ramones (disurga). Amien.

Ini pertanyaan yang selalu saya tanya tiap interview, gimana ceritanya kamu bisa mengenal hatkor/pang dan kemudian tercebur dan hidup di dalamnya?

Gua kenal hc/punk karna mau terlihat beda sama temen-temen SMP yang suka punk rock. Karna ketika SMP, gua bukan siapa-siapa tapi gua pengen diakuin. Jadi gua nyari, apanih yang belum booming di telinga temen-temen gua. Kebetulan ada temen yang sering nongkrong sama anak-anak hardcore dan di tasnya selalu ada tanda tipe-x tulisannya HxC dan selalu pake kaos yang orang berebutan mic. Dari dia gua banyak dengerin band-band hardcore. Dan kebetulan ketika itu hardcore belum se-booming sekarang. Lagi mencapai titik redupnya.

Bisa di bilang gua adalah orang yang sering orang permasalahkan sebagai poseur. Gua pernah beli kaset DS-13 bukan karna gua suka, tapi karna itu satu-satunya kaset yang di cover depannya ada tulisan Hardcore. Gua pernah pake kaos SXE dan ngrokok di gigs, pernah juga sosoan jadi Negative HC dan benci sama para Positive HC. Dan kalau gua ingat sekarang, itu lucu banget. Tapi gak jadi soal. Bukan berarti gua bilang gua yang sekarang udah hebat, bukan. Dari situlah gua bisa banyak belajar (meski sampe sekarang gua pun masih banyak belajar) bukan cuma soal hc/punk dalam segi musikalitasnya aja tapi sikapnya.

Tapi setelah lulus SMP. Banyak hal yang mempengaruhi pola pikir yang kemudian merubah sudut pandang gua terhadap hc/punk, terutama melalui zine-zine. Gua beruntung pernah baca zine dan juga jurnal-jurnal AO ketika itu. Semua itu memberi kontribusi dalam otak gua sampe sekarang.
 
Gimana menurutmu scene hatkor/pang lokal sekarang?

Gila! Menurut Badan Statistik Nasional, anak hardcore/punk meningkat 25% setiap tahunnya. Jika gua bandingkan dengan keadaan ketika gua baru berada di scene, itu jauh banget angkanya. Tapi gua seneng, karna banyak bermunculan sound dan style baru di scene yang membuat telinga ini punya banyak pilihan untuk mendengar.
 
Balik lagi ke Lemari Kota, apa yang kamu ingin lakukan bersama LK kedepannya? Adakah keinginan untuk meng-interview personal/band yang belum kesampaian?

Untuk keinginan sebenernya banyak. Gua pengen bassis ekonomi alternatif ini berjalan dan bisa menghidupi teman-teman yang udah bantu-bantu di LK, setidaknya bisa memberikan pemasukan untuk beli beras dan tidak sekedar tiket gigs ataupun CD. Yah, gua tau, ini kedengarannya utopis dan bahkan bisa kontradiktif. Tapi namanya juga keinginan yaa. Siapa tau LK bisa menyelamatkan orang-orang di dalamnya dari sistem kerja 9-5 yang gak banget. Hehehe… (Anjir, gak kebayang kalau LK punya kantor sendiri kaya zine-zine di luar sono)

Terus, gua pengen LK bisa menjadi wadah untuk skena ini. Benar-benar bisa menjadi tempat penyimpanan (pendokumentasian) yang baik untuk kita semua. Kalau masalah keinginan menginterview orang, kayanya gak deh. Gua cuma mau ngliat gimana Hardy Bangsat ngewawancarin ulang Anjing Tanah, kalaupun bisa gua mau nonton secara live.

Ada pengalaman yang tak terlupakan kah sepanjang perjalananmu ngejalanin LK? Ketika menginterview seseorang misalnya.

Yang gak bakal terlupakan itu adalah gua mendapatkan teman-teman baru dari LK dan gua merasa berguna untuk mereka. Satu lagi, dapet email dari ex-personilnya Zivilia (kalian tau ? Aisheteru!) yang bikin band baru, Undangan untuk meliput acara fashion, dan itu bikin gua bingung, mereka itu pada kenapa. Masa iya mereka gak tau Rolling Stone. Kenapa gak coba ke situ aja.

Dan satu lagi. Di interview oleh UnitedXBlood. Ini bakal jadi momen buat gua sepanjang ngjalanin LK. Dan lagi-lagi gua gak di bayar untuk bicara begini. Hehehe… UxB itu adalah sumber referensi juga buat gua, contohnya ketika gua ingin mewawancarai band-band Jakarta, UxB memberikan akses informasi tambahan tentang itu. Thanks banget.

Closing words, untuk penutup sesi interview singkat ini?

Sekecil apapun kontribusi kita, akan berdampak besar untuk scene ini. Gerak dan hantam stagnansi!!! Long live (A).

No comments:

Post a Comment